CERITA RAKYAT
Cerita Rakyat yang ditampilkan di Blog ini merupakan penulisan ulang dari buku-buku yang sudah beredar. Untuk Penulis dan Penerbit saya cantumkan di bawah dari teks.
Kamis, 30 Januari 2020
LUTUNG KASARUNG
Zaman dahulu kala, tinggallah seorang raja di sebuah kerajaan yang bernama Prabu Tapa Agung. Dia adalah Raja paruh baya. Ia mempunyai dua orang putri, Purbararang dan Purbasari.
Prabu Tapa Agung berencana untuk lengser menjadi seorang raja. Dia menginginkan Purbasari untuk menggantikannya sebagai pemimpin kerajaan. Mendengarkan hal tersebut, putrinya yang lain bernama Purbararang marah.
"Ayah tidak bisa memilih dia menjadi ratu, ayah aku lebih tua dari dia. Seharusnya aku, bukan dia!" kata Purbararang. Tapi raja masih memilih Purbasari untuk menjadi ratu berikutnya.
Kemudian Purbararang dengan kekasihnya, Indrajaya pergi ke penyihir dan memintanya untuk memberikan mantra pada Purbasari. Kemudian, kulit Purbasari menjadi rusak. Ada titik-titik hitam diseluruh tubuhnya.
"Kamu tidak secantik saya, kamu tidak bisa menjadi ratu. Kamu harus meninggalkan istana ini dan tinggal di hutan", kata Purbararang. Purbasari sangat sedih. Sekarang dia harus tinggal di hutan.
Suatu hari di hutan, dia bertemu seekor monyet yang berbeda dengan yang lain, ia memiliki kekuatan. Dan ia juga bisa berbicara dengan manusia. Monyet itu bernama Lutung Kasarung.
Lutung Kasarung berencana untuk membantu Purbasari. Dia membawa Purbasari ke sebuah danau kecil dan menyuruhnya untuk mandi di sana. Hebatnya, kulitnya yang buruk sembuh. Sekarang dia punya kulit cantik lagi.
Setelah itu, ia meminta Lutung Kasarung untuk menemaninya kembali ke istana. Purbararang sangat terkejut. Dia tahu dia harus mencari gagasan lain yang buruk. Dia kemudian berkata, "tunggu, mereka yang memiliki rambut panjang akan menjadi ratu."
Sang raja kemudian mengukur rambut putrinya. Purbasari memiliki rambut lebih panjang. Tapi Purbararang tidak menyerah. "Ratu harus memiliki suami yang tampan. Jika tunangan saya lebih tampan dari tunangan kamu, maka saya akan menjadi ratu", kata Purbararang.
Purbasari sedih. Dia tahu tunangan Purbararang itu tampan. Sementara dia tidak punya tunangan "ini adalah tunangan saya, Indrajaya. Dimanakah tunangan kamu?" tanya Purbararang. Lutung Kasarung maju. Purbararang tertawa sangat keras. "Tunangan anda adalah monyet, ha ha ha."
Tiba-tiba, Lutung Kasarung berubah menjadi seorang Pria yang sangat tampan. Ia bahkan lebih tampan dari Indrajaya. Purbasari kemudian menjadi ratu. Dia memaafkan Purbararang dan tunangannya dan membiarkan mereka tinggal di istana.
Penyusun : M. Rantissi
Penerbit : Bintang Indonesia
CERITA RAKYAT SANGKURIANG SAKTI
Pada zaman dahulu, ada seorang perempuan cantik bernama Dayang Sumbi. Dia memiliki seorang anak laki-laki yang tampan bernama Sangkuriang. Sangkuriang sangat disayang Dayang Sumbi. Mereka tinggal bersama di kerajaan dekat hutan. Selain itu, ada seekor anjing yang tinggal bersama mereka, anjing itu diberi nama Tumang.
Setiap hari Sangkuriang berburu. Sangkuriang senang sekali berburu, setiap berburu ke hutan dia selalu ditemani oleh si Tumang. Jika berburu, Sangkuriang selalu berhasil menangkap kambing hutan dan rusa. Sangkuriang senang sekali bila berhasil menangkap binatang-binatang itu.
Pada suatu hari Sangkuriang telah melakukan kesalahan yang sangat besar, sehingga membuat Dayang Sumbi sangat marah. Sangkuriang telah membunuh Tumang, dia tidak tahu bahwa anjing peliharaannya ini adalah titisan dewa dan juga ayahnya. tanpa sengaja ia memukul kepala anaknya dnegan sendok nasi yang dipegangnya, sehingga kelapa Sangkuriang terluka. Sangkuriang pun pergi meninggalkan Dayang Sumbi dan mengembara entah kemana.
Dayang Sumbi menyesal atas perbuatannya, karena anak satu-satunya meninggalkan dirinya. Semenjak kejadian itu, dia bersemedi dan selalu berdo'a kepada para dewa. Para dewa memberikan hadiah berupa kecantikan abadi. Dayang Sumbi baru menyadari bahwa dirinya awet muda, karena melihat teman-teman sebayanya sudah tua semua. Teman-teman sebaya Dayang Sumbi rambutnya sudah beruban dan berjalan mulai bungkuk
Selama mengembara, Sangkuriang bertemu dengan seorang kakek yang sangat sakti. Dia pun berguru kepada kakek itu. Oleh kakek itu Sangkuriang diajari segala ilmu kesaktian dan bela diri yang dimiliki. Sangkuriang termasuk anak yang cerdas, tidak membutuhkan waktu yang lama dia telah menguasai segala ilmu yang diberikan oleh si kakek tua itu. Kakek tua itu sangat bangga sekali melihat perkembangan muridnya yang cepat menyerap ilmu darinya.
Dengan bekal ilmu kesaktian beladiri yang dimiliki, Sangkuriang dengan mudah mengalahkan semua binatang buas yang ada di hutan. Dengan mudah raja hutan pun sudah dia kalahkan. Tidak hanya itu, raja jin juga bisa dikalahkan olehnya, sehingga raja jin dan pengikutnya menjadi anak buah Sangkuriang.
Pada suatu sore, di tepi sungai, Sangkuriang melihat gadis cantik. Dia pun mendekati gadis cantik itu, ternyata gadis cantik itu adalah Dayang Sumbi. Dayang Sumbi pun jatuh hati pada Sangkuriang. Sangkuriang pun menyatakan keinginannya untuk meminang Dayang Sumbi. Namun alangkah kagetnya Dayang Sumbi ketika melihat beka luka di kepala Sangkuriang. Dia pun menceritakan kepada Sangkuriang bahwa dia adalah anaknya.
Akan tetapi Sangkuriang tidak menerima penjelasan Dayang Sumbi. Sangkuriang tetap nekat ingin menikahi Dayang Sumbi. Apabila Sangkuriang ingin menikahi Dayang Sumbi, Dayang Sumbi memberi persyaratan pada Sangkuriang. Pertama, dia meminta pemuda itu untuk membendung Sungai Citarum. Dan kedua, ia meminta Sangkuriang untuk menyeberang Sungai Itu. Kedua syarat itu harus sudah dipenuhi sebelum fajar menyingsing.
Sangkuriang menyanggupi permintaan Dayang Sumbi. Dia dengan kesaktiannya memanggil jin dan mahkluk gaib untuk membantu menyelesaikan pekerjaan itu. Setelah matahari terbenam, jin dan mahkluk gaib mulai mengerjakan perintah Sangkuriang yaitu membendung Sungai Citarum dan membuat sampan besar. Diam-diam Dayang Sumbi mengintip pekerjaan tersebut.
Melihat pekerjaan itu hampir selesai, Dayang Sumbi memerintahkan pasukannya untuk menggelar kain sutera merah di sebelah timur kota. Ketika menyaksikan warna merah di timur kota, jin dan mahkluk gaib menghentikan pekerjaannya. Mereka mengira hari sudah menjelang pagi, sehingga mereka pun menghentikan pekerjaannya. Sangkuriang pun sangat marah karena berarti ia tidak dapat memenuhi syarat yang diminta Dayang Sumbi.
Karena sangat marah, dengan kekuatannya, Sangkuriang menjebol bendungan yang dibuatnya. Sehingga terjadi banjir besar melanda seluruh kota. Sangkuriang kemudian juga menendang sampan besar yang dibuatnya. Sampan itu melayang dan jatuh tengkurap menjadi sebuah gunung yang bernama "Tangkuban Perahu".
Diceritakan kembali oleh : Yudhistira Ikranegara
Penerbit : Lingkar Media
Langganan:
Postingan (Atom)























